-
Anda belum membeli barang apapun
uku ini tidak lahir dari kemenangan, melainkan dari kejujuran yang paling sunyi. Ia tumbuh dari hari-hari yang tidak selalu sanggup dijelaskan
dengan kata “baik-baik saja”. Dari pagi-pagi yang berat untuk dimulai, dari senyum yang dipakai sebagai penyangga, dan dari rindu yang datang tanpa pernah meminta izin. Membaca Ketika Cinta Tak Bisa Lagi Dipeluk seperti berjalan pelan di lorong ingatan seseorang di sana ada kehilangan yang tidak berisik, tetapi menetap dan mengubah segalanya.
Kisah dalam buku ini memperlihatkan bagaimana kehilangan tidak hanya merenggut kehadiran, tetapi juga memaksa manusia mendefinisikan ulang hidupnya. Bahagia tidak lagi berbentuk utuh, melainkan serpihan kecil yang harus dirawat dengan sabar. Cinta tidak lagi bisa diraih dengan tangan, namun justru bertahan dalam hal-hal yang paling sederhana, kebiasaan yang tertinggal, nama yang disebut dalam doa, dan kenangan yang diam-diam menguatkan.
Yang paling terasa dari halaman-halaman ini adalah keteguhan seorang ibu. Seorang perempuan yang belajar menahan runtuhnya dunia sendiri demi memastikan dunia anak-anaknya tetap berdiri. Ia menyimpan lelahnya rapat-rapat, menunda tangisnya hingga malam benar-benar sepi, dan memilih tetap menjadi rumah meski ia sendiri pernah kehilangan atapnya. Keteguhan itu tidak digambarkan dengan heroisme berlebihan, melainkan dengan kesunyian yang jujur, yang justru terasa sangat manusiawi.
Buku ini tidak menawarkan resep untuk sembuh, apalagi janji bahwa luka akan segera hilang. Ia hanya duduk di samping pembacanya, menemani, seolah berbisik bahwa tidak apa-apa jika rindu masih panjang, jika langkah terasa tertatih, jika hari ini belum sanggup tersenyum. Di sini, kekuatan tidak digambarkan sebagai keberanian besar, melainkan sebagai kesetiaan pada hidup, keputusan kecil yang diulang setiap hari untuk tetap berjalan.
Semoga buku ini menjadi pelipur bagi mereka yang pernah kehilangan, menjadi cermin bagi yang sedang belajar mengikhlaskan, dan menjadi pengingat bahwa luka tidak pernah sepenuhnya meniadakan harapan. Sebab meski cinta tak lagi bisa dipeluk, ia tetap ada dan menjaga dari kejauhan, menguatkan dengan cara yang paling diam.






