-
Anda belum membeli barang apapun
Pada dasarnya karya sastra itu adalah potret kehidupan atau visualisasi dari realitas yang terjadi di masayarakat luas. Kesan pertama terhadap puisi dalam antologi Ruang Tanpa Sekat ini merupakan puisi-puisi yang digubah dengan komtemplasi pemikiran yang mendalam sehingga menghasilkan puisi yang berkualitas dan menarik. Banyak puisi yang lahir dari pengamatan situasi yang serius. Sebagian besar puisi benar-benar menyuarakan realita kehidupan masyarakat, setidaknya mengungkapkan hal-hal yang terjadi dalam masyarakat. Hal itu membenarkan pandangan bahwa sastra tidak lahir dari kekosongan budaya, bahkan sebaliknya sastra cermin dari realitas kehidupan masyarakat dalam arti luas. Saya memilih title ulasan ini dengan judul Melihat Potret Negeri melalui Puisi. Negeri Indonesia dengan segala hiruk pikuknya diungkapkan dalam sebagian besar puisi dalam antologi ini. Semua peristiwa itu diikat dalam satu kendali yang disebut perang dalam puisi Perang Tanpa Usai karya Putri Bungsu. Perang atau pertengkaran tidak pernah selesai sampai kapan pun. Karena pelaku perang selalu silih berganti. Segala kejadian di tubuh bangsa ini tidak lain lahir dari perang di dalam hati setiap orang yang melahirkan tindakan antara jujur dan sombong, antara putih dan hitam, antara ketidak-sesuaian hati dan perbuatan, antara ucapan dan tindakan. Hal itu dinyatakan sebagai berikut perang tersembunyi dalam palung kalbu, antara jujur dan bohong, katanya putih nyatanya hitam, berlawanan antara hati dan perbuatan, berbeda ucap dan tindakan.
Beberapa puisi yang bicara realitas kehidupan negeri adalah puisi Bumiku Berbendera Merah Putih bicara pagar laut yang sempat heboh dan menyita perhatian publik. Masyarakat menyatakan protes terhadap kepemilikan laut, tetapi hanya protes kosong yang tiada hasil. Bahkan tidak hanya laut yang dipagar dan dikapling-kapling, tetapi hutan ditebang tiada batas, gunung-gunung digempur. Hal itu sebagai bukti bahwa pengarang mengambil peran dalam memotret persoalan yang menyangkut hayat hidup masyarakat banyak, pagar laut di Tangerang, Banten, pembabatan hutan di Sumatra yang mendatangkan bencana banjir bandang, dan pembongkaran gunung atau bukit di Kalimantan untuk penambangan batu bara. Tidak lupa peristiwa tambang nikel di Morowali tidak luput dari perhatian pengarang Putri Bungsu yang disebutnya kekayaan alam dikeruk dan dikirim keluar negeri. Sementara itu masyarakat lokal berteriak menentang penambangan di Morowali, tetapi para pembesar negeri seolah menutup mata tiada mengerti.
Selanjutnya kita disuguhi realitas sosial yang mengoyak hati semua orang yang berpikiran jernih melalui puisi Para Pemburu Kursi Basah. Tidak pelak lagi yang dimaksud kursi basah adalah kursi atau jabatan anggota dewan atau jabatan lain untuk mengejar harta dan popularitas dan melupakan amanah dan tanggung jawab. Tidak sedikit dan hampir semua pejabat tebar pesona dengan pidato-pidato penuh retorika untuk meninabobokkan rakyat. Setelah rakyat terpesona barulah mereka merampas kekayaan negara. Mereka berpendirian bahwa untuk mendapatkan kursi basah dibutuhkan beberapa miliyard. Oleh sebab itu, mereka berusaha mengembalikan modalnya setelah berkuasa. Hal senada disuarakan oleh puisi karya Heru Marwata berjudul Negeriku bukan Boneka. Puisi ini mencoba mengkritik sikap pemimpin yang mengobaral janji dalam mendapatkan jabatan. Mereka berjanji dengan lantang menyampaikan janji manis kepada rakyat. Namun, setelah menduduki jabatan mereka segera melupakan janji-janjinya, seperti tertera dalam kutipan berikut Negeriku bukan pasar suara, tempat janji digantung seperti pakaian obral, ditawar saat musim tiba, lalu segera dilupakan, ketika kursi sudah diduduki. Janji-janji manis seolah menjadi tradisi dalam berjualan jabatan di hadapan rakyat. Kembali kepada puisi Para Pemburu Kursi Basah dalam bait-bait terakhir pengarang memberikan solusi sebagai harapan yang menawarkan perlunya dari awal untuk memilih jalan kebenaran (disebutnya jalan putih) dalam meraih kehidupan akhirat yang abadi. Akan tetapi, sulit rasanya mencari sosok yang memilih jalan putih dewasa ini. Oleh karena itu sewaktu ada sosok menteri yang berpikiran tegas, sederhana, berpihak pada rakyat (disebut menolak kenaikan pajak) menjadi idaman rakyat. Hal itu menandakan bahwa dewasa ini sangat jarang sekali adanya sosok yang dapat dipercaya. Puisi ini memotret pribadi Menteri keuangan Indonesia yang memiliki gebrakan mengejutkan masyarakat sehingga namanya dikenal seluruh negeri dan dikagumi masyarakat. Pemakaian kata sang menandakan penghargaan dan harapan besar dari rakyat. Secara utuh puisi itu dikutip sbb






