-
Anda belum membeli barang apapun
Desa Djarum juga kaya akan warisan budaya lokal berupa kerajinan tembikar atau gerabah, dan tentunya kerajinan batik. Batik Bayat, yang sempat populer pada era 1950-an hingga 1970-an, bahkan pernah menjadi ikon penting bagi Kabupaten Klaten. Secara budaya, batik Bayat adalah warisan tak benda (intangible) yang wajib kita lestarikan. Dari sisi ekonomi, batik ini punya potensi besar untuk dikembangkan karena melibatkan banyak tenaga kerja lokal dan menjadi salah satu motor penggerak ekonomi kerakyatan. Sayangnya, motif batik Bayat yang mengadopsi pola dan ragam hias dari relief candi-candi di Prambanan dan sekitarnya, rupanya kurang diminati masyarakat luas. Alasannya? Mungkin karena belum ada 'benang merah' yang kuat antara ragam hias candi dan motif batik yang bisa menumbuhkan ikatan emosional bagi pembeli.
Sentra kerajinan gerabah di Desa Djarum, Klaten juga menjadi salah satu warisan leluhur yang tak kalah menarik. Keunikannya terletak pada proses dan teknik pembuatannya yang beda banget dari daerah lain. Di sini, para perajin enggak pakai meja putar seperti kebanyakan. Mereka memakai alat tradisional yang disebut 'perbot miring', terbuat dari kayu jati, dan diputar dengan menekan serta menggerakkan kaki. Alat inilah yang memberikan sentuhan khas gerabah Desa Djarum yang enggak bakal kamu temukan di tempat lain. Dulu, banyak perempuan membuat gerabah sambil mengenakan kebaya dan jarik, sebagai bentuk penghormatan pada etika dan kesopanan. Nah, 'perbot miring' ini hadir sebagai solusi, agar para perempuan bisa duduk miring dan membuat gerabah dengan nyaman, tanpa khawatir kaki atau paha mereka terlihat.
Tidak hanya itu, Desa Djarum juga menjadi rumah bagi banyak perajin gamelan yang tersebar di berbagai desa. Bahkan, beberapa perajin juga punya sanggar seni sendiri untuk melatih warga berlatih gamelan. Mereka memproduksi gamelan dari bahan besi, kuningan, dan perunggu, menggunakan metode tempa dan las. Untuk menghasilkan nada atau 'laras' yang pas dan berkualitas, proses pengerjaannya masih manual: ditempa atau dipalu untuk gamelan besi dan kuningan, serta 'digitik' untuk yang berbahan perunggu. Semua ini dikerjakan oleh seniman-seniman muda yang terus belajar dan berinovasi demi menciptakan 'wanda' serta 'laras' terbaik dengan harga yang kompetitif dan relatif terjangkau.






